Apa kabar mainan anak tempo dulu?

Bila kita perhatikan, mainan anak-anak sekarang semakin canggih seiring dengan perkembangan zaman. Macamnya pun juga banyak. Ada game online, mobil-mobilan menggunakan remote control. Apakah anak sekarang masih mengenal mainan congkak (dakon), bermain kelereng, main tali, bekelan, jamuran dan mungkin ada mainan tradisional dari daerah lain.

Mungkin mainan tersebut masih ada, hanya saja jarang dilakukan. Anak-anak zaman sekarang lebih menyukai mainan internet. Sah-sah saja, karena perkembangan teknologi anak-anak diharapkan dapat mengikuti informasi melalui teknologi.

Kalau kita perhatikan, mainan tempo dulu banyak juga mengandung unsur pendidikan dan kekeluargaan. Ambil contoh anak-anak perempuan bermain dakon (congkak). Anak-anak diharuskan teliti menghitung, jujur dan menghormati teman. Sama halnya bermain kelereng, ada unsur keteltian. Bermain tali ada unsur gerak (olahraga). Bermain boneka ada unsur bercerita, merangkai kalimat. Bermain rumah-rumahan ada unsur mendesain rumah mini.

Jadi kalau kita telusuri, mainan anak zaman dahulu luar biasa unsur-unsur pendidikan dan kekeluargaan yang ada di dalmnya. Sayangnya semakin hari mainan itu seakin langka, hanya sesekali ditampilkan pada perayaan tertentu.



































Seni Jajan Pasar Riwayatmu Kini

Seiring dengan perkembangan zaman jajan pasar hampir terlupakan. Coba lihat sekarang, orang lebih memilih jajan praktis dan modern. Sah-sah saja, ini merupakan sebuah kesukaan. Bahkan ada juga orang yang mengatakan, "ah...jajan pasar? sudah kuno tuh," Biarlah orang mengatakan seperti itu, itu hak dia.

Jajan pasar di tempat saya biasanya terdiri dari cenil, lopis, grontol (jagung rebus), gathot, gethuk, klepon dan sebagainya (mungkin ada nama jajan pasar di tempat anda). Bahkan jajan pasar ini hampir tenggelam, anak-anak sekarang hampir kurang mengenal jajan pasar (kecuali kalau anak diajak ke pasar tradisional dan dikenalkan). Jajan ini biasanya kita jumpai di pasar tradisional, yang bila kita lihat penjual jajan pasar tradisional dapat dihitung dengan jari, semakin hari semakin langka.

Saya pernah menjumpai jajanan pasar ini disajikan di hotel yang banyak dikunjungi oleh turis asing. Sepertinya turis-turis asing ingin mencari sesuatu yang unik dan lain daripada yang lain. Bahkan ingin mencoba membuatnya. Saya pernah mendaptkan email dari teman saya dari Eropa, yang pernah tinggal dua tahun di Indonesia. Dia mengatakan sudah dapat membuat kue lapis dan klepon untuk keluarganya di Eropa.

Nah, kita sebagai bangsa Indonesia sudah mengenalkan jajanan tradisional kepada putra-putri kita belum? belum terlambat kan? yuk...ajari putra-putri kita mengenal jajanan khas Indonesia, agar anak-anak lebih mencintai tanah air Indonesia.